Prinsip-Prinsip Design Grafis

Prinsip-Prinsip Design Grafis – Bidang desain grafis belakangan ini semakin akrab dengan perkembangan dunia digital. Kalaupun menjadi semakin populer, desain grafisnya sebenarnya tidak sesederhana itu. Beberapa prinsip desain grafis harus dipenuhi.

Prinsip-Prinsip Design Grafis

Sumber : kuripandesain.my.id

signaturebar – Pada dasarnya setiap pemula perlu memahami dan menguasai 7 prinsip desain grafis. Ketujuh prinsip desain grafis tersebut meliputi keseimbangan, penekanan, pengulangan, ritme, gerakan, kesatuan, dan ruang.

Dengan memahami Prinsip-prinsip Design Grafis tersebut, Anda dapat lebih mudah membuat berbagai desain grafis yang indah, indah, dan bermakna.

Menurut markey.id, Desain grafis juga memiliki prinsip manusia, sebagian orang memang dikenal karena prinsipnya, prinsip utama harus ditampilkan dalam desain grafis agar karya dapat menyampaikan informasi, sedangkan elemen lainnya hanya ditampilkan tanpa membuat elemen utama menimpa segalanya. Itu semua tergantung pada selera desainer grafis, klien, dan target audiens pesan.

1. Keseimbangan (Balance)

Sumber : grafis-media.website

Prinsip pertama desain grafis adalah keseimbangan. Keseimbangan karya seni adalah faktor termudah untuk dinilai oleh setiap desainer profesional. Bahkan sekilas, desainer profesional bisa menilai apakah karya desain grafis Anda sudah dalam keseimbangan yang tepat.

Keseimbangan yang disebutkan di sini adalah bobot setiap elemen dalam desain grafis. Elemen tersebut dapat berupa warna, ukuran, tekstur, dan bentuk yang digunakan dalam karya desain grafis. Masing-masing elemen tersebut selalu memiliki peran dan bobot tersendiri dalam setiap karya seni.

Oleh karena itu, pelajaran pertama bagi seorang pemula dalam desain grafis adalah mempelajari keseimbangan desain grafis. Pelajari cara terbaik untuk menempatkan setiap elemen desain agar terlihat seimbang saat digabungkan.

Hindari penempatan elemen seni yang ceroboh, seperti menempatkan setiap elemen hanya pada satu titik dan mengabaikan ruang kosong lainnya. Ini akan membuat karya seni Anda menjadi satu sisi.

Oleh karena itu, Anda harus mempertimbangkan dengan cermat semua unsur seni desain grafis. Secara otomatis, karya seni Anda akan terlihat holistik dan estetis.

Contoh bagaimana desainer grafis pemula sering salah menempatkan elemen desain grafis adalah dengan menempatkan elemen berbobot tinggi pada titik spasial dalam karya desain mereka.

Ketika elemen yang lebih berat atau lebih berat ini terkonsentrasi pada satu titik pada kanvas desain, karya seni Anda akan meninggalkan kesan negatif. Kesannya adalah Anda menganggap area lain dalam desain tidak relevan, karena semua elemen berbobot tinggi terkonsentrasi di satu titik.

Penilaian negatif ini dapat berkisar dari kebingungan penonton, tidak berfokus pada desain grafis yang sedang diproduksi, hingga perasaan tidak nyaman saat mengamati karya seni.

Sekali lagi, agar penonton dapat dengan mudah dan nyaman memahami karya desain grafis Anda, maka karya tersebut harus sesuai dengan prinsip desain yang berimbang ini.

Sebuah pengingat penting untuk Anda, Prinsip keseimbangan dalam ilmu desain grafis sebenarnya tidak dapat diukur dengan kepastian yang sama seperti rumus matematika. Prinsip keseimbangan hanya bisa diwujudkan oleh desainer dengan menggunakan jiwa artistiknya.

Intinya, ketika karya seni bisa memberikan kesan produk secara keseluruhan, tanpa ada elemen yang saling membebani, dan tidak ada ruang kosong yang terkesan terabaikan, keseimbangan karya seni bisa tercapai.

Ada dua metode dasar dalam prinsip keseimbangan desain grafis, yaitu keseimbangan simetris serta keseimbangan asimetris. Perbedaan dari keduanya yaitu

Keseimbangan Simetris

Keseimbangan simetris adalah penataan rangkaian elemen artistik, dimulai dari titik tengah, kemudian bergerak secara merata pada sisi kiri dan kanan kanvas desain.

Prinsip keseimbangan simetris menekankan pada kesamaan posisi proporsi dan posisi elemen artistik dalam desain grafis. Hasil akhir dari desain simetris ini adalah dengan menempatkan elemen desain yang bobotnya sama atau sama pada posisi yang sejajar dengan sisi dan garis tengah gambar, keseimbangan dapat dicapai pada karya seni.

Keseimbangan Asimetris
Keseimbangan asimetris pada dasarnya adalah kebalikan dari konsep keseimbangan simetris. Dalam keseimbangan asimetris, elemen dengan bobot yang sama disusun dengan cara yang berbeda.

Dengan menggunakan sistem keseimbangan asimetris, Anda dapat lebih fleksibel mengatur setiap elemen bobot yang sama di sisi halaman kanvas. Untuk mengimbangi karya seni desain grafis ini, Anda dapat menggunakan elemen keseimbangan yaitu warna, ukuran, bentuk, dan tekstur desain.

Misalkan Anda menggunakan bobot elemen berlawanan arah jarum jam dalam ilustrasi yang sedang Anda kerjakan. Penerapan unsur ini dilakukan secara berlawanan dengan cara membandingkan satu unsur dengan bobot lebih besar dengan sejumlah unsur dengan bobot lebih kecil.

Hasilnya, meski komposisi bobot elemen tidak terdistribusi merata secara simetris, setiap penonton yang melihat karya seni Anda tetap dapat merasakan keseimbangan yang dipancarkan oleh karya seni tersebut.

Singkatnya, prinsip desain roda keseimbangan simetris memang lebih menarik dan mudah. Walaupun karya seni yang simetris dan seimbang bisa membuat desain terlihat membosankan, apalagi jika penikmatnya sering melihat karya seni Anda.

Pada saat yang sama, prinsip desain asimetris terlihat lebih berani dan lebih fleksibel. Namun, menggunakan metode timbangan asimetris untuk menyusun elemen dengan bobot berbeda akan membutuhkan perhatian penuh dan perhatian ekstra.

Baca juga : Pengertian dari Design Grafis

2. Penekanan (Emphasis)

Sumber : vriske.com

Yang kedua adalah asas penekanan atau penekanan. Menekankan (menekankan) prinsip mengacu pada pemfokusan pada elemen tertentu dalam desain grafis. Apa artinya menekankan?

Mari kita lihat contoh berikut ini. Misalkan Anda diminta mendesain poster untuk sebuah seminar. Tentunya di dalam poster akan dicantumkan banyak informasi penting agar pembaca poster dapat memperoleh informasi penting tentang seminar tersebut.

Kemudian poster dapat digunakan sebagai media untuk menarik rasa penasaran para penontonnya. Sebelum membuat desain grafis untuk poster seminar, Anda perlu menyusun terlebih dahulu bagian-bagian desain tersebut dalam bentuk pertanyaan, seperti:

Informasi apa yang harus diketahui audiens terlebih dahulu? Apa judul atau topik seminar? Siapa nama pembicara pada seminar tersebut? Ataukah biaya menghadiri seminar?

Apakah Anda memprioritaskan manfaat yang dapat diperoleh audiens dengan berpartisipasi dalam simposium? Atau haruskah kita menekankan lokasi dan waktu seminar?

Intinya, menekankan prinsip mengacu pada konten yang perlu ditekankan atau ditekankan dalam desain. Dengan cara ini, informasi yang terkandung dalam desain Anda dapat dikomunikasikan dengan lebih mudah dan efektif kepada audiens.

Lantas, bagaimana cara mudah menentukan titik-titik kunci (penekanan) dalam desain? Jawabannya sangat sederhana, Anda hanya perlu membuat garis besar dan memilih elemen yang ingin Anda sorot. Selain itu, Anda dapat mengatur penataan informasi ini dalam tata letak desain.

Jika biasanya Anda memperhatikan poster, informasi yang disorot akan ditampilkan dalam ukuran yang lebih besar dan semenarik mungkin. Pada saat yang sama, detail sekunder atau tambahan akan menjadi lebih kecil dan tidak terlalu mencolok.

Kembali ke contoh di atas saat membuat poster. Bisakah Anda sekarang memperkirakan komposisi konten poster yang akan dirancang? Jika menurut Anda nama pembicara seminar adalah informasi yang paling penting, misalnya jika Anda ingin mengundang presiden atau influencer favorit Anda di kota tempat tinggal Anda, maka letakkan nama pembicara di tengah atau di bagian atas poster.

Dengan cara ini, Anda dapat secara khusus menekankan elemen nama penyelenggara seminar dan dapat menjadikannya sebagai sesuatu elemen yang paling berbobot dalam desain.

Selain itu, Anda perlu menggunakan kombinasi warna yang eye-catching atau eye-catching untuk menonjolkan informasi terpenting dalam desain poster. Untuk menyempurnakan desain Anda, Anda dapat menambahkan foto referensi orang dalam seminar. Penggunaan foto biasanya merupakan strategi kunci desain yang efektif untuk menarik perhatian pemirsa.

Prinsip penekanan (Emphasis) terdiri dari:

Hierarki

Jenis penekanan pertama adalah hierarki. Anda dapat menggunakan tipe penekanan berlapis untuk menyertakan sejumlah elemen dalam desain Anda. Sesuai dengan namanya, hierarki mengacu pada jenis penekanan yang ditentukan dalam urutan atau pengaturan.

Misalnya pada desain poster seminar, Anda dapat menuliskan nama pembicara sebagai informasi utama pada poster dengan memberikan warna tulisan yang berbeda atau font yang sangat tebal.

Secara mutlak akan menyoroti hierarki untuk menekankan setiap informasi utama dalam sistem, daripada informasi lain yang kurang penting. Contoh lain penerapan metode penekanan berlapis adalah dengan menempatkan pesan utama di atas poster sehingga tertulis dalam desain poster.

Anda juga dapat menggunakan bingkai khusus di sekitar judul. Metode penekanan berlapis ini dapat menyoroti informasi penting dan menarik perhatian siapa pun yang melihat poster Anda. Oleh karena itu, opini masyarakat dapat langsung tertarik pada berita utama yang telah ditandai secara spesifik.

Skala dan Proporsi

Kedua, sistem dasar berdasarkan skala dan proporsi. Contoh penerapan metode ini adalah dengan menempatkan dua elemen dengan bobot yang berlawanan (misalnya, besar dan kecil) pada halaman desain yang sama.

Melalui metode desain yang mengedepankan proporsi dan proporsi ini, Anda dapat menonjolkan informasi utama dengan font yang lebih besar, atau menggunakan lebih banyak ruang desain daripada informasi pendukung lainnya.

Kembali ke contoh desain poster di atas. Ketika Anda menentukan bahwa nama pembicara seminar adalah informasi yang paling penting untuk ditekankan, Anda pasti akan memperbesar ukuran nama pembicara dibandingkan dengan informasi harga tiket seminar yang terdapat pada informasi dukungan poster.

Ini adalah contoh nyata penerapan sistem yang mengedepankan skala dan proporsi. nAnda juga dapat menyoroti informasi penting dengan menggabungkan pilihan warna dalam desain Anda. Tonjolkan elemen terpenting.

Misalkan Anda memberikan warna putih dengan nama, lokasi, waktu, dan harga tiket pembicara seminar. Elemen desain lain memiliki warna berbeda, sehingga bagian desain font putih dapat menonjol.

Kontras

Jenis selanjutnya yang mengedepankan prinsip desain grafis adalah kontras. Metode penekanan menggunakan prinsip kontras sering diadopsi oleh banyak desainer grafis profesional. Ini karena metode kontras sangat mudah diterapkan.

Metode kontras untuk menekankan desain memungkinkan Anda menempatkan dua elemen desain yang saling bertentangan dalam desain bingkai. Bahkan dengan metode kontrasepsi ini, elemen desain yang saling bertentangan dapat tampil serasi dan menciptakan desain yang lengkap dan bagus.

Contoh seperti itu. Misalnya, gunakan warna gelap dan terang atau hitam putih dalam desain poster seminar Anda. Kita semua tahu bahwa warna gelap dan terang adalah dua komponen yang berlawanan.

Namun, penggunaan warna-warna kontras untuk mempertegas desain akan membuat informasi yang terdapat dalam desain poster lebih mudah untuk disampaikan dan ditangkap oleh khalayak.

Anda juga bisa lebih mudah menyusun komposisi desain agar terlihat lebih menarik. Nyatanya, hanya sedikit desainer yang menghindari penggunaan warna senada dalam karya desainnya, karena cara ini membuat desain grafis Anda tidak jelas makna dan maknanya.

Bayangkan desain poster Anda menggunakan warna-warna senada, seperti pink, crimson, pink, dan ungu. Warna-warna senada ini tidak dapat menekankan informasi atau tujuan yang terkandung dalam desain poster.

Belum lagi kemampuannya dalam menangkap pesan yang disampaikan oleh poster, sebagian besar penonton sudah tidak lagi tertarik untuk melihat poster ketika melihat posternya.

Menekankan prinsip desain melalui metode kontras memudahkan Anda memandu audiens ke desain yang dipasang. Warna yang kontras dapat langsung menarik perhatian orang dalam sekejap. Alhasil, informasi yang terkandung dalam desain dapat dikomunikasikan dengan baik.

3. Pengulangan (Repetition)

Sumber : kelasanimasi.com

Prinsip ketiga dari desain grafis adalah pengulangan. Prinsip pengulangan merupakan prinsip desain grafis yang digunakan untuk mempercantik tampilan keseluruhan dari desain grafis itu sendiri.

Sekilas, prinsip pengulangan ini terlihat mirip dengan prinsip penekanan, yang keduanya bertujuan untuk mempercantik tampilan desain grafis kepada penikmatnya.

Bedanya, prinsip pengulangan lebih pada menghubungkan elemen yang berbeda dalam sebuah desain grafis agar terlihat lebih teratur dan konsisten. Ada 3 prinsip pengulangan dalam desain grafis yaitu regular, mengalir, dan progresif atau gradual.

Regular
Prinsip desain grafis yang berulang adalah pola bentuk yang simetris yang berulang. Yang lain mendefinisikan prinsip dari desain grafis pengurangan beraturan sebagai pola berulang berupa elemen dan spasi yang sama. Pola berulang yang teratur ini sering digunakan dalam desain bingkai foto.

Inilah mengapa kita sering melihat bahwa desain kusen terlihat rapi dan memiliki pola keseimbangan yang repetitif atau repetitif.

Flowing (Mengalir)
Pola pengulangan kedua dalam desain grafis adalah pola mengalir atau mengalir. Seperti namanya, pola mengalir atau berulang yang mengalir dirancang untuk menciptakan kesan gambar bergerak yang dinamis dan sempurna.

Contoh praktis penerapan pola aliran atau berulang aliran dapat ditemukan di garis, spiral, kurva dan lingkaran. Bentuk-bentuk ini secara dinamis dapat menggerakkan gambar untuk meninggalkan kesan atau efek visual pada penontonnya.

Progresif (Gradual)
Bentuk akhir dari pola pengulangan adalah pengulangan progresif atau progresif. Pola repetitif progresif atau progresif adalah pola repetitif dalam desain, yang menyertai setiap perubahan bentuk yang terjadi dalam desain.

Hasilnya, pola berulang yang terbentuk secara bertahap membuat karya desain terlihat lebih indah. Menggunakan sistem progresif seolah-olah Anda diundang untuk melihat sebuah desain berkembang dari satu tahap ke tahap lainnya.

4. Ritme (rhythm)

Sumber : slideplayer.info

Selain prinsip pengulangan, ada prinsip yang tidak kalah pentingnya yaitu prinsip ritme. Prinsip ritme pada dasarnya sama dengan prinsip pengulangan. Perbedaannya adalah prinsip ritme tersebut digunakan untuk mengatur pengulangan dan membuat pengulangan lebih teratur. Alhasil, desain yang dibuat dengan prinsip ritme akan lebih memiliki nilai seni.

Beberapa contoh jenis dan ritme yang biasa digunakan oleh desainer profesional adalah ritme linier, ritme bergantian, gradien, atau bentuk yang lebih kompleks.

Irama linier disusun secara paralel sesuai dengan namanya masing-masing; ritme alternatif dibuat secara berkala; ritme bertahap membuat karya desain memiliki efek bertahap khusus saat dibuat.

5. Gerakan (Movement)

Sumber : kelasanimasi.com

Salah satu dari tujuh prinsip desain grafis berikutnya adalah gerakan. Prinsip gerak atau movement merupakan salah satu bentuk elemen kendali dalam sintesis desain grafis.

Tujuan penggunaan komponen gerak ini adalah untuk membuat setiap orang yang melihat karya seni Anda merasa seolah-olah sedang “dibimbing” dari satu elemen artistik ke elemen artistik lainnya.

Dengan cara ini, setiap pesan atau informasi yang ingin Anda sampaikan melalui karya seni desain grafis dapat tersampaikan secara utuh, atau bahkan sesuai dengan tujuannya.

Ini karena setiap penonton menyukai pekerjaan desain grafis Anda secara keseluruhan. Melalui prinsip gerak, setiap orang bisa mendapatkan panduan lengkap untuk memahami setiap detail pekerjaan desain grafis.

Prinsip gerakan ini juga dapat menciptakan “cerita” dan “naratif” tersendiri dari karya desain grafis. Dengan demikian, masyarakat umum dapat lebih mudah menyampaikan dan menangkap informasi dalam karya desain grafis.

Mari kita ambil kembali contoh desain poster untuk seminar yang ingin Anda lakukan sebelumnya. Saat menerapkan prinsip desain gerakan, Anda akan mengedit informasi di poster dengan proses khusus agar mudah dibaca oleh publik.

Misalnya, poster acara seminar Anda harus memuat banyak informasi, seperti nama pembicara, lokasi dan waktu seminar, biaya pendaftaran, serta judul dan topik seminar yang akan diselenggarakan.

Agar masyarakat lebih mudah memahaminya, maka informasi ini disusun dengan cermat, dimulai dari informasi yang paling penting, kemudian ditindaklanjuti dengan informasi pendukung lainnya.

Serangkaian arus informasi didalam desain grafis poster akan dibuat dalam sebuah urutan menurun: dari yang paling penting hingga informasi yang paling tidak penting.

Proses tak terlihat ini nantinya akan memandu visi setiap orang yang membaca poster Anda untuk memahami semua informasi yang terdapat dalam desain grafis. Oleh karena itu, tidak akan ada satu pun detail informasi yang terlewatkan oleh publik.

Prinsip gerak atau movement selalu diterapkan pada karya karya desain grafis yang mengandung banyak informasi, seperti halnya poster, brosur, leaflet, dan baliho, dll.

Karena jika Anda mendesain produk tersebut tanpa memperhatikan prinsip desain grafis yang dinamis, desain Anda akan terlihat sangat berantakan dan membingungkan. Hasilnya adalah publik tidak dapat memahami dengan jelas inti pesan Anda kepada mereka.

Penataan informasi yang rapi dalam desain grafis hanya menyulitkan orang untuk memahami informasi tersebut. Mereka pada akhirnya akan mengabaikan desain selebaran yang telah Anda buat dengan kerja keras.

6. Kesatuan (Unity)

Sumber : njw1969.wordpress.com

Prinsip penting selanjutnya dalam desain grafis yang perlu dipahami dan dipelajari oleh desainer grafis pemula adalah prinsip persatuan (unity). Prinsip unified or unified design dapat dijelaskan sebagai mekanisme untuk menyusun secara akurat berbagai elemen desain pada kerangka desain.

Unity atau asas persatuan memiliki peran penting, agar desain Anda bisa menjadi sebuah karya yang utuh. Selain itu, kesatuan atau prinsip persatuan dapat memberikan dampak keseluruhan yang harmonis pada desain grafis yang Anda hasilkan.

Dengan kata lain, semua elemen dan komponen desain dengan bobot yang berbeda dalam karya desain grafis seolah-olah saling terkait, serasi dan saling melengkapi.

Selain itu, kesatuan prinsip dapat membantu terciptanya karya seni yang koheren dan memperkuat tema yang diusung oleh karya tersebut. Tujuan utama kesatuan dalam karya desain grafis biasanya meliputi konsistensi, kekompakan, kelengkapan dan kesatuan dalam komposisi karya.

Harus dipahami dengan baik bahwa ketika semua elemen dari karya desain visual Anda terkait erat atau menyatu, hal ini akan berdampak positif pada pemikiran audiens yang melihat karya Anda.

Mereka akan menilai karya desain grafis Anda mempunyai komposisi yang rapi, tidak membingungkan, yang lebih terorganisir dan sangat berkualitas. Selain itu, pesan yang terkandung di dalam desain dapat dengan lebih mudah ditangkap serta dicerna oleh pembaca atau audiens.

Ada 4 jenis prinsip dalam unsur kesatuan atau unity, yakni kedekatan, kesinambungan, kesamaan, dan perataan.

Kedekatan (Closure)
Yang pertama adalah prinsip persatuan dalam hal kedekatan. Desain tertutup atau prinsip tertutup dapat membantu Anda membangun hubungan yang kuat antara elemen desain yang serupa dan saling terkait.

Anda tidak perlu repot dengan pengelompokan khusus elemen desain yang terlihat serupa. Cukup menerapkan prinsip kekompakan, lalu Anda bisa menghubungkan elemen desain yang sama sehingga bisa bekerja sama.

Contoh penerapan prinsip proximity adalah dengan menggunakan jenis font, warna, dan ukuran yang serupa untuk menghubungkan setiap elemen desain. Oleh karena itu, desain Anda dapat ditampilkan sebagai unit visual yang lengkap.

Kesinambungan (Continuity)
Berikutnya adalah elemen kontinuitas. Untuk membuat karya desain grafis yang saling berkelanjutan, Anda harus terlebih dahulu mengalihkan perhatian penonton ke bagian tertentu dari desain grafis, lalu mendesain bagian lain.

Oleh karena itu, saat mendesain, Anda tidak hanya akan mengandalkan gambar latar belakang untuk membuat karya seni, lalu menyelaraskan semua elemen lainnya dengan elemen pusat. Metode perancangan ini dinilai kurang efektif, yang akan membuat karya Anda sulit dipahami audiens.

Kesamaan (Similarity)
Unsur persatuan ketiga adalah kesamaan atau kesamaan dari masing-masing unsur. Karya desain grafis dapat memiliki elemen yang serupa atau identik dalam proporsi, bentuk, warna dan aspek lainnya.

Proporsi, warna, dan font yang sama yang digunakan dalam desain dapat menciptakan efek tampilan gambar yang terpadu dan harmonis. Selain itu tampilan desain menjadi lebih enak dipandang.

Tentunya, jika Anda berkesempatan mengamati karya desain grafis profesional, akan mudah mengenali fitur ini. Penerapan kesamaan atau prinsip kesamaan dapat meningkatkan nuansa dan tema yang diusung oleh karya seni desain.

Perataan (Alignment)
Prinsip terakhir kesatuan adalah perataan. Prinsip desain terpadu ini berperan penting dalam menciptakan tampilan visual yang lengkap dan berkaitan erat dengan setiap elemen dalam desain.

Baca juga : Aplikasi Slideshow Gratis MiniTool Movie Maker

7. Ruang (Space)

Sumber : desain.ilmuwebsite.com

Prinsip desain grafis terakhir yang perlu dipahami dan dipelajari oleh desainer grafis pemula adalah prinsip ruang. Prinsip desain grafis semacam ini tidak lain adalah kekosongan dalam karya seni desain.

Apa yang disebut “ruang kosong” mengacu pada jarak dan area tertentu dalam sintesis desain. Ada empat kekosongan dalam karya seni desain grafis

Ruang Negatif (Negative Space)
Ruang negatif adalah ruang kosong dalam desain. Area kosong ini biasanya mengelilingi subjek dalam desain grafis. Oleh karena itu, prinsip desain ruang kosong selalu lebih pasif dibandingkan ruang lainnya. Beberapa juga mendefinisikan ruang negatif dalam desain grafis sebagai tepi ruang positif. Tepi mengelilingi ruang kosong negatif itu sendiri.

Ruang Positif (Positif Space)
Berikutnya adalah ruang positif, kebalikan dari ruang negatif. Ruang positif merupakan area yang menjadi posisi fokus tema utama dalam komposisi desain. Adanya ruang positif ini juga turut membantu dalam membangun desain yang lengkap.

Ruang Tiga Dimensi (3D)
Ruang tiga dimensi merupakan area di mana objek mendapat kedalaman khusus dalam desain grafis, sehingga objek tersebut seolah-olah memiliki volumenya sendiri. Sentuhan yang terlibat bisa dalam bentuk warna terang atau gelap yang bertujuan untuk memperjelas subjek. Misalnya, Anda memberikan warna terang dan gelap untuk menciptakan kesan tema tiga dimensi, sekaligus mempertegas letak tema dalam desain.

Ruang Dua Dimensi (2D)
Jenis ruang terakhir adalah ruang dua dimensi. Bertentangan dengan ruang tiga dimensi, ruang dua dimensi merupakan suatu area khusus, dan objek visual rancangan terlihat sangat datar, tanpa kedalaman khusus seperti ruang kosong tiga dimensi. Oleh karena itu, penonton hanya dapat melihat versi diperpanjang dari tema desain tersebut.

Author: userbars